Assalamualaikum, Wilujeng Sumping di Blog Kajian Permais FEB Unpad Kajian Permais FEB Unpad Metamorfosis Sempurna Latta dan Uzza | Kajian in Action

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 16 April 2015

Metamorfosis Sempurna Latta dan Uzza

Lataa dan Uzza adalah nama patung berhala yang disembah orang kafir di zaman jahiliah. Dimana ‘Amr ibn Luhay berperan sebagai Sang Perantara dalam maraknya bangsa Arab menjadi penyembah berhala –paganisme-, yang hanya berhasil memerantarai sistem kepercayaan dan pola pikir yang membuat kaumnya semakin menyerusuk ke kedalaman kubungan sejarah.
Nama Al Lataa ditafsir sebagai bentuk feminim dari kata Allah. Laqab dari Al-Lataa adalah Al-Fayadh, yang berarti dermawan besar. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir bahwa sebelumnya Lataa adalah nama seseorang yang sangat saleh dan dermawan. Dia biasa menyediakan makanan dari tepung gandum bagi orang orang yang menunaikan haji. Jika datang jama’ah haji ke Makkah, maka mereka akan menyempatkan mampir ke rumah Lataa. Menikmati jamuan roti nan lebar yang dicelup ke dalam kuah daging kental dan minuman menyegarkan. Setelah dia meninggal, orang orang sering berkumpul di samping kuburannya untuk mengenang kebaikan dan kewaliannya. Bahkan mereka membuatkan patung sebagai pengagungan atas kelebihan yang pernah dilakukannya.
Lataa dan Uzza Era Modern yang Primitif
Matarantai jahiliah yang membentang sepanjang sejarah dihubungkan oleh satu benang merah yaitu syirik. Wujudnya berupa penyekutuan atau bahkan penggantian terhadap hak Allah sebagai Ilah, sebagai sesembahan Yang Maha Esa. Pembuatan patung, lalu menyembahnya sebagai sosok yang Agung adalah salah satu contoh dari kesyirikan yang dilakukan oleh bangsa Arab di zaman jahaliah.
Sedihnya, Lataa dan Uzza di era jahiliah, tidak hilang ditelan masa walaupun ajaran Sang Pembawa Cahaya –Nabi Muhammad SAW- telah mengajarkan ketauhidan, pembenahan logika dari hal-hal yang menyesatkan. Di era modern ini, masih kita dapati banyak dukun, paranormal, hingga yang menyebut diri Ustadz dan Kyai  menyatakan diri sebagai perantara dalam hubungan antara hajat manusia dengan Allah. Dan parahnya lagi manusia berbondong-bondong memakainya untuk memintas jalan hajat hidup mereka.
Selain itu, adapula beberapa sholawat yang disusun, yang dengannya kita memperbanyak shalawat, diniatkan sebagai cara untuk menunjukkan kecintaan pada Rasul dan ketaatan pada Allah SWT, padahal tanpa sadar shalawat tersebut telah mengantarkan pada perbuatan syirik. Misal pada shalawat nariyah terdapat beberapa bait yang maknanya Pengkultusan kepada Nabi Muhammad SAW. Dimana sikap pengkultusan kepada manusia siapapun itu, tidak pernah dibenarkan dalam Islam. Telitilah lafal dalam shalawat yang sering didendangkan. Jangan sampai karena ketidaktahuan mengantarkan kita ke dalam perbuatan syirik.
Metamorfosis Sempurna Lataa dan Uzza
Ketika pada zaman jahiliah, bangsa Arab secara terang-terangan mempersekutukan Allah, melakukan penyimpangan ketauhidan dari agama samawi yang di da’wahkan oleh nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.  Kemudian Nabi Muhammad datang membawa kebenaran dan rahmat, dimualailah era penentangan terhadap penyembahan berhala. Ada yang menentang dan ada yang membela. Kejahiliahan tidak terhenti setelah Islam datang, pertentangan demi pertentangan terus bergulir. Kejahiliahan terus berkembang, berubah wujud menjadi kejahiliahan dengan bentuk yang lebih halus, menipu dan bermetamorfosis sempurna, layaknya kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu  -tak mudah dikenali-.
Ada satu aksioma klasik dalam peradaban Islam yang diformulasikan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Khalifah pertama. Menurut beliau, jika pasar memenangi Masjid, maka Masjid akan mati. Tapi jika Masjid memenangi pasar, maka pasar akan hidup. Maka di anatara misi peradaban Islam adalah menjaga agar Masjid memenangi pasae, karena itu berarti juga menjaga kehidupan pasar. Misi itu kini kelabu, karena pasar telah memenangi Masjid. Ekonomi kita pun disebut ekonomi pasar. Bahkan sekejap lagi, akan ada ‘pasar bebas’. (Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim, Salim A Fillah).
Iklan salah satu cara da’wah  yang menyeru kepada paganisme dan konsumerisme tanpa disadari. Mall-mall yang berjejer megah disetiap kota adalah tempat peribadatan bagi penganut setia paganisme dan konsumerisme. Hal yang disembah tentu trend dan mode. Setiap waktu berbondong-bondong manusia memasuki tempat peribadatan –mall- mereka.
Data  Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia  (APPBI) tahun 2012 menyatakan bahwa terdapat 240 pusat perbelanjaan yang ada di seluruh Indonesia. Masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif secara tidak langsung meyuburkan bisnis sektor-sektor yang bergerak di bidang konsumsi, salah satunya pusat perbelanjaan.
Menjamurnya pusat perbelanjaan bukan sekedar pemenuhan kebutuhan. Tapi kini orientasi masyarakat telah berubah dari need menjadi want. Termakan dengan rayuan iklan dengan imaji-imaji sesatnya. Seperti pria yang jantan adalah mereka yang berani melakukan tantangan –merokok-, wanita yang cantik adalah wanita yang tanpa jerawat, orang yang kaya adalah yang memiliki mobil keluaran tebaru. Iklan telah mendidik kita menstandarkan kebenaran pada penilaian kebanyakan manusia tanpa nalar dan sikap kritis. Anehnya da’wah ini diikuti.
Inilah metamorfosis sempurna dari Lataa dan Uzza. Menjadikan masyarakat yang jauh akan Masjid, terbuai oleh iklan, menjadi penyembah trend dan mode, kemudian menjadikan mall sebagai tempat peribadatan, mendesain manusia-manusia pemboros, dimana pemborosan adalah proyek memperbanyak saudara syaithan (Al-Israa’ 27).
Metamorfosis sempurna dari Lataa dan Uzza, telah banyak memakan korban. Saudara, tetangga, atau teman kita mungkin telah menjadi penyembah trend dan mode. Lebih banyak meghabiskan waktu di Mall ketimbang di Masjid, lebih banyak belanja barang-barang tidak perlu ketimbang berinfaq, sedikit demi sedikit akidah mereka tergerus terbuai oleh imaji sesat hasil dari iklan.
Memiliki pandangan hidup islam (Islamic WorldView) adalah slah satu cara yang dapat ditempuh tepat untuk mencegah diri dari metamorfosis sempurna Lataa dan Uzza, atau virus agama lainnya adalah dengan Islamic worldview (Pandangan Hidup Islam) adalah pemahaman seorang Muslim terhadap konsep-konsep pokok dalam Islam. Pemahaman setiap manusia akan mempengaruhi perilakunya. Cara pandang, sikap, dan perilaku seorang manusia ditentukan oleh bagaimana ia memahami suatu objek yang diinderanya. Seorang Muslim yang memiliki Pandangan Hidup Islam (Islamic Worldview) akan berbeda dengan seseorang yang tidak memilikinya
Metamorfosis sempurna Lataa dan Uzza tidak hanya berupa penyembahan dalam trend dan mode, tapi dapat juga berbentuk hal-hal yang lain. Ulama India Syaikh Abul Hasan Ali An-Nadwi pernah menyebutkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi umat Islam saat ini, sepeninggal Rasulullah SAW adalah tantangan yang diakibatkan oleh serangan-serangan pemikiran yang datang dari peradaban Barat. Sebab, tantangan ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam pandangan Islam, yaitu masalah iman dan kemurtadan. Wallahu’alam. 
Referensi:
http://www.eramuslim.com/resensi-buku/siapa-lata-dan-uzza-dan-awas-bahaya-syirik-di-masyarakat.htm
http://www.konsultasisyariah.com/mengapa-shalawat-nariyah-dilarang/
http://m.dakwatuna.com/2013/05/16/33321/tranformasi-penyembahan-berhala/
http://pemudapersisgarut.wordpress.com/2011/01/05/untuk-apa-belajar-islamic-worldview/
A. Fillah, Salim. 2012. Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro U Media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

About