Bismillahirrahmanirrahim.
Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang cerita teman Liqo saya.
Setiap pekan biasanya saya dan teman-teman di kampus suka liqo’. Bagi yang masih asing mendengarnya, liqo’ itu semacam pengajian namun lebih intensif karena pesertanya hanya sekitar 10-12 orang dengan guru pengajar yang tetap. Bagi saya liqo’ itu merupakan kebutuhan rohani, yang mana manfaatnya terasa pada saat itu juga. Liqo’ itu ibarat charger, sesuatu yang dapat membangkitkan kembali semangat yang terkadang padam. Dalam acara liqo’, selain materi yang diberikan oleh guru, biasanya ada sesi curhat. Siapapun yang punya cerita, baik itu cerita baik atau buruk, dipersilahkan untuk berbagi dengan teman-teman yang lain. Ini lah salah satu hal yang membuat saya betah di liqo’.
Singkat cerita, kemarin saya liqo’ bersama teman-teman di salah satu masjid di jalan Dipati Ukur. Setelah tilawah dan rangkaian materi selesai disampaikan oleh guru kami, tiba-tiba ada teman yang bicara, "Teh, saya punya cerita." Dengan senang hati guru kami mempersilakan teman saya itu untuk bercerita tentang pengalamannya kepada kami. Kurang lebih seperti ini ceritanya:
"Beberapa waktu yang lalu saya dan teman saya (teman liqo’ juga yang kebetulan tidak hadir pada saat itu) menghadiri acara UKM di lingkungan fakultas. Mungkin karena kebanyakan orang di lingkungan fakultas saya yang berpikiran sekuler, pada acara itu ada sesi sharing tentang pacar. Pada pertanyaan pertama kakak pembimbingnya menunjuk orang lain, dan orang yang ditunjuk itu pun bercerita tentang pacarnya. Setelah selesai tiba-tiba Kakak tersebut menunjuk saya. Spontan saya bilang tidak punya pacar. Si Kakak itu pun kaget gitu dengan jawaban saya. Seolah tidak percaya, si Kakak itu bertanya lagi dengan nada meyakinkan, 'Masa gak punya pacar? LDR gitu LDR? atau waktu SD gitu?’ Udah nanya, maksa lagi. He. Saya pun menjawabnya dengan jawaban yang meyakinkan pula, 'Gak Kak. Saya gak punya pacar karena sejak SD saya pesantren.' (Memang 83% teman liqo’ saya pernah belajar di pesantren, hanya saya dan teman yang berasal dari Bogor yang sekolah di sekolahan umum. (Tetapi itu tidak menjadikan saya patah semangat, justru saya bersyukur bisa berada di tengah-tengah mereka) Kemudian si Kakak dengan wajah sinis menjawab, 'Oh....'”
“Selesai bertanya tentang pacar kakak itu menghampiri saya dan bertanya, 'Kamu percaya Tuhan?'. Saya sih tidak kaget dia bilang begitu karena dia anggota salah satu komunitas yang sekuler. Saya jawab dengan tenang, 'Percaya Kak' Mendengar jawaban saya si Kakak tersebut menantang saya, 'Oke. Kalau kamu percaya tuhan, saya ingin bukti.' Si Kakak mengeluarkan korek api seraya menggeser jarinya sejengkal, 'Kalau Tuhan itu ada tolong kamu berdoa dan minta kepada tuhan kamu untuk memindahkan korek ini dari sini ke sini.’ Saya jawab saja, 'Oke kak.' Seketika itu pun saya mengangkat kedua tangan saya sambil kumat-kamit selayaknya orang berdoa. Kemudian saya pindahkan saja itu korek api dengan tangan saya. Si kakak kaget. 'Saya minta Tuhan kamu yang pindahin, bukan kamu.' Terus saya jawab, 'Firman Tuhan saya, kalau saya meminta sesuatu saya harus berusaha, Kak. Kalau saya hanya berdoa, Tuhan saya gak akan mengabulkan permintaan saya. Ini adalah salah satu usaha saya, dan ternyata Tuhan saya menghendaki permintaan saya untuk membuat korek ini pindah tempat.' Kakak-nya hanya mengangguk dan berkata 'oh' kembali...."
Luar biasa, jika pertanyaan itu dilontarkan kepada saya, saya mungkin bingung akan menjawab apa. Tapi pemahaman dan implementasi konsep ketuhanan teman saya itu memang patut diacungi 4 jempol. Ibrah-nya buat saya adalah seseorang yang hanya percaya bahwa semua doa itu mampu mengubah segalanya dalam waktu sekejap lama-lama akan memiliki pemikiran yang sama dengan si kakak itu, dan setiap orang yang percaya bahwa dengan melakukan suatu usaha tanpa di sertai doa itu akan sukses perilakunya juga akan sama seperti kakak itu, karena sejatinya doa dan usaha itu satu paket. Jika hanya dengan berdoa saja nabi Muhammad bisa membuat semua orang memeluk Islam, saya yakin dengan seyakin-yakinnya tidak akan ada cerita tentang perjuangannya. Sebaliknya, jika nabi Muhammad SAW melakukan usaha saja maka saya percaya nabi Muhammad saat menghadapi perang Khandaq akan kalah, karena pasukan kaum Muslim saat itu jauh lebih sedikit dengan para kafir Quraisy. Ibroh yang terakhir adalah ternyata saya belum mengenal betul tentang Tuhan. Saya berpikir kalau pertanyaan itu dilontarkan kepada saya, apakah saya bisa menjawab seperti teman saya? Wallahua’lam, semoga kita selalu dipersatukan dengan orang-orang yang dekat dengan Allah. Aamiin. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar